Korea Selatan Gandeng Uni Eropa Buat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

- Rabu, 21 September 2022 | 19:52 WIB
Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol (Net)
Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol (Net)

AYOVIBES.COM -- Pemerintah Korea Selatan berusaha untuk meningkatkan kerjasama dengan negara-negara Eropa untuk pengadaan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir. Hal ini sebagai langkah untuk memastikan keamanan energi dan langkah lebih baik dalam menanggapi perubahan iklim.

Kementerian Industri Korea Selatan mengadakan pertemuan dengan delegasi Uni Eropa yang dipimpin oleh Wakil Presiden Pertama Parlemen Eropa Othmar Karas dan Cristian-Silviu BUSOI, yang memimpin bagian industri dan komite energi Uni Eropa. Saat itu, Korea Selatan diwakili oleh Deputi Menteri Perdagangan Jeong Dae-jin.

Baca Juga: Ahli Klaim UU Nuklir Milik Kim Jong Un Untuk Hindari Ancaman Musuh

Jeong menjelaskan dorongan aktif pemerintah Seoul untuk memperluas pembangkit listrik tenaga nuklir dan menghidupkan kembali industri, serta menekankan kesediaannya untuk bekerja lebih erat dengan negara-negara Eropa adalah rencana pemerintahnya untuk memperkenalkan atau mengelola fasilitas nuklir.

Korea Selatan berharap untuk berpartisipasi dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir besar di negara-negara anggota Uni Eropa, termasuk program Polandia membangun enam reaktor nuklir dan proyek Republik Ceko untuk membangun kembali reaktor tambahan di wilayah selatan Dukovany.

Selama pertemuan tersebut, Jeong juga meminta perhatian parlemen Uni Eropa terhadap dampak Undang-Undang Pengurangan Inflasi Amerika Serikat (IRA) terhadap pembuat mobil mereka, karena undang-undang tersebut mengecualikan kendaraan listrik yang dirakit di luar Amerika Utara dari kredit pajak.

Baca Juga: Kesalahan VTerdahulu Follow Jennie di Instagram Jadi Sebuah Tanda Hubungan Asmara

IRA, yang ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden pada bulan Agustus, telah menimbulkan kekhawatiran bahwa Hyundai Motor Co. dan Kia Corp. akan kehilangan posisinya di pasar AS. Kekhawatiran itu muncul karena mereka membuat EV di pabrik domestik untuk diekspor ke AS.

Sebagai informasi, Korea Selatan dan negara-negara anggota UE seperti Jerman dan Swedia, di antara negara-negara lain, adalah eksportir EV utama ke AS. Pemerintah Seoul telah mencari tanggapan bersama dengan mereka terhadap aturan diskriminatif tersebut.

Editor: Icheiko Ramadhanty

Sumber: Yonhap

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X